Bacaan Sujud Subhana Dzil Jabaruti wal Malakuti
Bacaan Sujud “Subhana Dzil Jabaruti wal Malakuti” ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Safar 1448 H /10 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Bacaan Sujud “Subhana Dzil Jabaruti wal Malakuti”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan bahwa bacaan dalam shalat tidak hanya satu macam, tetapi bermacam-macam. Di antara hikmahnya, bacaan itu tidak terucap secara refleks dan otomatis. Sesuatu yang dilakukan secara refleks biasanya tidak dipikirkan. Bacaan shalat tidak semestinya menjadi gerakan lisan yang otomatis tanpa perenungan.
Bacaan shalat perlu dipikirkan agar maknanya dapat direnungi. Dari perenungan itu, kekhusyukan lebih mudah hadir. Karena itu, bacaan shalat diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berbagai bentuk. Kemungkinan besar, salah satu hikmahnya adalah agar ketika membaca dzikir tersebut, seorang muslim berpikir, mengingat-ingat, dan lebih mudah merenungi maknanya.
Lafal Bacaan Sujud
Bacaan ketujuh ini pernah dibahas ketika membahas bacaan rukuk.
Lihat: Bacaan Rukuk “Subhana Dzil Jabaruti wal Malakuti”
Bacaan ini tergolong pendek dan mudah dihafal:
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
Doa ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud. Menurut Imam an-Nawawi, isnad hadits ini shahih. Menurut Imam Ibnu Hajar dan Syaikh Albani, derajat hadits ini hasan.
Hadits ini dituturkan oleh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bernama ‘Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa pada suatu hari ia shalat malam bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi imam, sedangkan ‘Auf menjadi makmum.
“Pada suatu hari aku pernah shalat malam bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setelah membaca Al-Fatihah, beliau membaca surah Al-Baqarah. Setiap kali membaca ayat tentang rahmat, beliau berhenti lalu memohon kepada Allah. Setiap kali membaca ayat tentang azab, beliau berhenti lalu memohon perlindungan kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)
Dalam shalat malam tersebut, setelah membaca Al-Fatihah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca surah Al-Baqarah. Surah ini panjang, sekitar lima puluh halaman, karena terdiri atas kurang lebih dua setengah juz. Bacaan tersebut terjadi pada rakaat pertama.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacanya dengan pelan, bukan cepat. Buktinya, menurut penuturan ‘Auf, setiap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca ayat tentang rahmat, seperti tentang surga, beliau berhenti dan berdoa kepada Allah memohon surga. Contohnya, Allahumma inni as’alukal jannah. Ketika membaca ayat tentang azab atau neraka, beliau berhenti dan memohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.
Keadaan itu menunjukkan bahwa bacaan beliau panjang dan disertai perenungan. Setelah selesai membaca surah Al-Baqarah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rukuk dengan durasi rukuk yang hampir sama.
Lamanya Rukuk dan Sujud Nabi Saat Tahajud
Rukuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lamanya seperti berdiri beliau. Jika Surah Al-Baqarah dibaca selama satu jam, rukuk beliau hampir satu jam pula.
Kebiasaan yang sering dilakukan umat Islam ialah membaca subhana rabbiyal adzim tiga kali. Bacaan itu biasanya hanya berlangsung beberapa detik, bukan menit. Adapun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah rukuk sangat lama.
Bacaan yang beliau baca ketika rukuk adalah subhana dzil jabaruti wal malakuti wal kibriya’i wal adzhamah. Karena rukuk beliau sangat lama, dzikir itu tentu dibaca berkali-kali.
Para ulama menjelaskan bahwa bacaan rukuk boleh dibaca lebih dari tiga kali. Bacaan rukuk yang sering dibaca ialah subhana rabbiyal adzim atau subhana rabbiyal adzimi wabihamdih. Membacanya lebih dari tiga kali diperbolehkan, terutama ketika shalat sendirian.
Ketika menjadi imam, seseorang harus memperhatikan keadaan makmum. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat itu menjadi imam, tetapi makmumnya hanya satu orang, sehingga beliau memanjangkan bacaan.
Setelah rukuk, beliau berdiri, lalu sujud. Sujud beliau juga lamanya mirip dengan berdiri beliau. Hal ini menunjukkan bahwa shalat tahajud Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat panjang.
Panjang shalat beliau menunjukkan kenikmatan dalam beribadah. Orang yang menikmati ibadah ingin berlama-lama, sedangkan orang yang tidak menikmati ibadah ingin segera selesai.
Bacaan Sujud yang Sama dengan Bacaan Rukuk
Ketika sujud, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca bacaan yang sama dengan bacaan ketika rukuk, yaitu:
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
Bacaan ini dapat dibaca dalam rukuk dan sujud. Riwayat yang disebutkan menunjukkan bahwa bacaan tersebut dibaca Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika rukuk dan sujud dalam shalat tahajud. Belum ditemukan riwayat dalam pembahasan ini yang menyebutkan bahwa beliau membacanya dalam shalat lima waktu atau shalat fardhu.
Ilmu lebih mudah melekat ketika segera dipraktikkan. Setelah mengetahui bacaan ini, praktiknya dapat dilakukan dalam shalat tahajud, ketika rukuk dan sujud.
Makna Sujud: Merendahkan Diri di Hadapan Allah
Ketika sujud, seorang hamba merendahkan dirinya serendah-rendahnya di hadapan Allah. Buktinya, anggota-anggota pokok tubuh diletakkan di lantai, sejajar dengan tanah.
Anggota sujud berjumlah tujuh: dahi dan hidung dihitung satu, dua telapak tangan, dua lutut, serta ujung jari-jari kedua kaki. Semua anggota pokok itu diletakkan di tempat yang paling rendah.
Sujud adalah ekspresi kerendahan hati di hadapan Allah. Saat itu seorang hamba membaca subhana dzil jabarut. Kata subhana bermakna Maha Suci, yaitu Allah tidak memiliki kekurangan sama sekali.
Karena Allah tidak memiliki kekurangan, Allah Mahasempurna. Seorang hamba menghadap Dzat Yang Mahasempurna dalam posisi serendah-rendahnya. Posisi itu menjadi pernyataan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki banyak kekurangan.
Pesan utama sujud ialah makhluk yang penuh kekurangan merendahkan diri di hadapan Dzat Yang Mahasempurna.
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim)
Waktu paling dekat seorang hamba dengan Allah adalah saat sujud. Pada saat itu ia mengakui dirinya rendah serendah-rendahnya dan banyak kekurangan. Pada waktu yang sama, ia mengakui bahwa Allah Mahatinggi dan Mahasempurna.
Makna Jabarut: Keperkasaan Allah
Jabarut bermakna keperkasaan. Dengan membaca subhana dzil jabarut, seorang hamba menyatakan bahwa Allah Mahaperkasa. Tidak ada yang lebih perkasa daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menenangkan hati yang sedang gelisah. Karena itu, ketika hati gelisah, seorang hamba hendaknya segera shalat agar hatinya tenang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Bilal:
“Wahai Bilal, tegakkanlah shalat. Tenangkanlah kami dengan shalat itu.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin merasakan ketenangan melalui shalat. Hiburan beliau adalah shalat. Beliau mencari ketenangan dalam shalat, merasa bahagia, nyaman, tenang, dan damai ketika mengerjakannya.
Keadaan seperti itu belum banyak dirasakan. Banyak orang masih menganggap shalat sebagai beban yang ingin segera diselesaikan. Berbeda dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menikmati shalat sehingga shalat beliau lama.
Salah satu cara agar dapat menikmati shalat adalah memahami bacaan yang dibaca. Karena itu, pembahasan tentang bacaan shalat perlu diperhatikan, sebab bacaan tersebut selama ini terus diucapkan dalam shalat.
Harapannya, sebelum meninggalkan dunia, seorang hamba diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati shalat. Banyak orang telah shalat selama puluhan tahun, tetapi belum sampai pada tingkat menikmati shalat. Semoga Allah berbelas kasih dan memberi kesempatan untuk merasakan kenikmatan shalat, sehingga tidak mengeluh ketika adzan dikumandangkan dan tidak mengeluh ketika imam membaca dengan panjang.
Makna Malakut: Allah Pemilik Seluruh Kerajaan
Bacaan berikutnya adalah wal malakuti. Maknanya, Allah adalah pemilik atau raja dari segala kerajaan. Kerajaan Allah adalah alam semesta, langit dan bumi. Allah yang mengendalikan, memiliki, menciptakan, dan mengatur alam semesta.
Ketika terlihat penguasa dan raja di alam semesta, kekuasaan mereka sejatinya titipan dari Penguasa Mutlak, yaitu Allah. Karena hanya titipan, kekuasaan itu tidak boleh digunakan semena-mena. Titipan tersebut dapat diambil kembali dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kekuasaan tidak hanya berupa jabatan formal seperti gubernur, bupati, atau presiden. Setiap orang memiliki kekuasaan, ada yang besar dan ada yang kecil. Keduanya akan dipertanggungjawabkan.
Contoh kekuasaan kecil adalah kekuasaan dalam rumah tangga. Seorang suami memiliki kekuasaan terhadap istri dan anak-anaknya. Hal itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah: kewajiban sebagai kepala rumah tangga yang menafkahi keluarga, kewajiban sebagai suami yang mendidik istri, dan kewajiban sebagai ayah yang mengayomi anak-anak.
“Wanita adalah pemimpin atas keluarga (anak-anak) suaminya.”
Seorang istri memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan anak-anak suaminya. Ketika suami bekerja, ia menjaga anak-anak. Tanggung jawab itu akan dipertanggungjawabkan. Membiarkan anak bermain tanpa perhatian sementara ibunya sibuk dengan telepon genggam adalah keadaan yang memprihatinkan di hadapan Allah.
Orang yang belum memiliki pasangan juga memiliki kekuasaan, yaitu atas tubuhnya sendiri. Ia tidak memikul tanggung jawab memimpin orang lain, tetapi tetap bertanggung jawab memimpin dirinya sendiri. Kelak ia akan ditanya tentang penggunaan tubuhnya.
Allah akan meminta pertanggungjawaban tentang mata, telinga, kaki, dan tangan. Mata digunakan untuk melihat apa, telinga digunakan untuk mendengar apa, kaki digunakan untuk melangkah ke mana, dan tangan digunakan untuk bekerja mencari nafkah yang halal atau untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Makna Kibriya: Keagungan dan Kemuliaan Allah
Bacaan berikutnya adalah wal kibriyai. Al-kibriya berarti keagungan dan kemuliaan tanpa batas. Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahamulia, Mahatinggi, dan Mahaagung, sedangkan seluruh makhluk rendah di hadapan-Nya.
Karena itu, seorang hamba perlu melatih diri untuk tawadhu. Tidak perlu bersikap sombong karena perhiasan, kendaraan, pakaian, merek terkenal, atau hal-hal duniawi lainnya. Yang berhak menampakkan kemuliaan dan keagungan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makna Azamah: Kebesaran Allah Tanpa Batas
Bacaan terakhir adalah wal azhamah. Al-azhamah berarti kebesaran tanpa batas. Allah adalah Yang Mahabesar. Karena itu, shalat diawali dengan ucapan Allahu Akbar, yang berarti Allah Mahabesar.
Kesadaran bahwa Allah Mahabesar seharusnya membuat seorang hamba tunduk dan patuh. Manusia kecil, bahkan sangat kecil, di hadapan kebesaran Allah.
Makhluk yang kecil seharusnya tunduk dan patuh di hadapan Allah Yang Mahabesar. Tanda ketundukan itu tampak ketika seseorang memenuhi panggilan shalat tanpa banyak alasan, seperti mengantuk, lelah, atau merasa masih tanggung dengan urusan pekerjaan.
Ketika Allah memerintahkan untuk menutup aurat dan memakai jilbab, seorang hamba tidak semestinya beralasan karena panas atau tidak sesuai tren. Ketundukan seorang hamba adalah ketundukan kepada Allah.
Dalam bacaan sujud ini, seorang hamba mengakui kelemahannya di hadapan Allah Yang Mahakuat. Ia mengakui kerendahannya di hadapan Allah Yang Mahatinggi, serta kefakirannya di hadapan Allah Yang Mahakaya.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Sujud Allahumma Laka Sajadtu” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56458-bacaan-sujud-subhana-dzil-jabaruti-wal-malakuti/